Copyright © 2017 K+A D . All rights reserved.

 

F I R M A   A R S I T E K T U R

Horizontal.png
  • Florentia Natalie

KAD bicara Pura Tirta Empul

Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang paling diminati untuk dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Kebudayaan yang cukup kental menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan mancanegara, yang cenderung lebih menyukai hal-hal yang berbau kultural. Kebudayaan Bali sebagian besar dicerminkan melalui arsitekturnya, yang didominasi oleh bangunan pura sebagai tempat beribadah bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu.

Pemandangan orang berlalu lalang masuk ke dalam kolam pemandian menjadi pemandangan yang tidak asing disini. Pengunjung yang didominasi oleh wisatawan mancanegara seringkali terlihat memakai kain berwarna hijau sebelum kemudian masuk ke dalam kolam pemandian dan mengikuti ritual ini dengan harapan mendapatkan ‘penyucian’.


Terletak di daerah Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, pura ini memang terkenal akan kesucian kolam pemandiannya. Konon, mandi di kolam tersebut dipercaya dapat menghilangkan hawa buruk dalam diri orang yang melakukannya, baik jiwa maupun raga.


Seperti pura pada umumnya, Kawasan Pura Tirta Empul ditata dengan mengadopsi zonasi Tri Hita Karana, yaitu Utama – Madya – Nista.


Berbatasan dengan dunia luar, pintu masuk kawasan ini dianggap sebagai bagian paling ‘kotor’, yang disebut juga Nista. Kolam pemandian 'holy spring', terletak pada area ini, yang ditujukan untuk mencuci dan menjauhkan manusia dari pikiran dan hal yang negatif (kotor) sebelum memasuki bagian yang lebih suci.



Bagian Madya merupakan area datar yang digunakan oleh para umat Hindu untuk melangsungkan upacara ritual adatnya. Sedangkan bagian Utama merupakan bagian paling sacral pada Kawasan pura dan hanya dapat dimasuki orang yang akan melangsungkan sembahyang.



Keunikan pada pura ini kembali lagi, terletak pada adanya pemandian suci. Area ini terhubung dengan mata air yang terletak tidak jauh dari kawasan tersebut, yang kemudian disalurkan melalui 22 pancuran yang memiliki khasiat yang berbeda-beda. Namun dari seluruh pancuran ini ada dua pancuran yang tidak boleh dipakai karena seharusnya digunakan untuk membersihkan orang yang meninggal. Selain khasiatnya, area ini juga memiliki suasana yang menarik, sakral tetapi disaat yang sama juga menggembirakan.



Secara umum struktur bangunan-bangunan di Pira Tirta Empul memiliki material yang berasal dari alam, yaitu batu dan kayu. Bangunan berstruktur batu dapat dilihat pada gapura masuk ke semua area dalam Pura Tirta Empul, kolam pemandian, mata air, tugu-tugu sesajen, maupun beberapa puncak atap.


Struktur batu yang ada hampir semua memiliki ukiran yang juga merupakan ciri khas bangunan-bangunan Bali. Struktur pondasi umpak yang menggunakan batu juga dapat ditemukan pada area Pura Tirta Empul.


Selain batu, ditemukan juga struktur kayu pada bangunan menyerupai pendopo yang terletak di area publik dekat pintu masuk.


10 views